invasi virus dengue ( demam berdarah)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) atau lebih dikenal dengan DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan dari orang ke orang oleh nyamuk Aedes aegypti. Kota Semarang termasuk daerah endemis DBD. Kalau kita melihat Angka insidensi DBD di Kota Semarang, pada tahun 2001, angkanya mencapai 45,02 per 1000 penduduk dan angka kematiannya adalah 29 orang. Data ini adalah data yang hanya berasal dari rumah sakit yang melaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Semarang, belum lagi ditambah dengan kasus-kasus yang tidak terlaporkan.

Melihat kegawatan penyakit ini maka seharusnya sistem pencatatan dan pelaporan guna keperluan penrencanaan, pencegahan dan pembarantasan penyakit DBD didukung oleh sistem yang handal. Yakni suatu sistem yang dapat menyediakan data dan informasi yang akurat, valid dan up to date. Namun sampai saat ini sistem surveilans DBD di Dinkes Kota Semarang masih dikerjakan secara manual. Sistem seperti ini maka sering timbul masalah tentang keterlambatan pelaporan serta data yang disajikan tidak valid dan up to date, yang pada akhirnya akan menggangu proses penrencanaan, pencegahan dan upaya-upaya pembarantasannya.

Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem surveilans yang didukung oleh sistem komputer dan teknologi informasi. Sistem ini dikembangkan untuk lingkungan Dinas Kesehatan kota Semarang. Sebelum digunakan, diberikan pelatihan kepada para tenaga yang akan mengoperasikannya.

Dengan adanya pengembangan sistem ini, diharapkan dapat memberikan keuntungan khususnya kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang dalam pengelolaan data dan informasi penyakit DBD secara lebih akurat, valid dan selalu up to date.. Sehingga kegiatan perencanaan pencegahan dan pemberantasan DBD dapat dilakukan lebih baik. Misalnya dalam penyediaan obat-obatan, dan fasilitas penanggulangan DBD. Dengan adanya perencanaan yang baik maka diharapkan kasus DBD dapat dicegah dan diberantas sehingga masyarakat Kota Semarang memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa / wabah. Nyamuk penularnya ( Aedes aegypti) dan virus dengue tersebar luas, sehingga penularan penyakit demam berdarah dengue terjadi di semua tempat / wilayah yang terdapat nyamuk penular penyakit tersebut.
Tanda-tanda DBD adalah: demam, tanda-tanda perdarahan di permukaan kulit yang disebabkan oleh Trombositopeni dan Gangguan fungsi trombosit. Uji Tourniquet positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai sebagai ??presumptive test ??(dugaan keras) oleh karena uji Tourniquet positif pada hari-hari pertama demam terdapat pada sebagian penderita penyakit DBD. Uji Tourniquet positif untuk menegakkan diagnosi klinik adalah jika terdapat 20 atau lebih petechiae dalam radium 2,8 cm di lengan bawah bagian depan dekat lipat siku. Petechiae merupakan tanda perdarahan yang sering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pada hari pertama demam.

Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penular penyakit demam berdarah dengue (DBD).Virus dengue brada dalam darah selama 4 -7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk ke dalam lambng nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk bersiap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit), sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (proboscis), agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.

Tempat penularan yang potensial untuk penyebaran DBD adalah: Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan / endemis); Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar, sekolah, rumah sakit dan tempat-tempat umum lainnya.

Sistem Surveilans DBD

Sistem surveilan penyakit DBD adalah pengamatan penyakit DBD di puskesmas meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan dan penyajian data penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan wabah, laporan bulanan program P2DBD, penentuan desa/kelurahan rawan, mengetahui distribusi kasus DBD/ kasus tersangka DBD per RW/dusun, menentukan musim penularan dan mengetahui kecenderungan penyakit.

Alur pelaporan kasus DBD dimulai dari masyarakat dan dari petugas kesehatan/ rumah sakit ataupun klinik lainnya. Laporan diberikan ke puskesmas yang diteruskan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Apabila pelaporan berasal dari rumah sakit bisa langsung disampikan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Selanjutnya, Dinas kesehatan kabupaten/kota akan melakukan tindak lanjut berupa tindakan-tindakan penyelidikan epidemiologi, pemberantasan sarang nyamuk ataupun dengan fogging. Dinas kesehatan kabupaten/kota akan melaporkan kejadian ini ke dinas kesehatan propinsi. Pelaporan kasus DBD berhenti sampai dengan tingkat propinsi. Di tingkat propinsi data akan diolah untuk keperluan upaya pemberantasan dan pencegahan penyakit DBD.

Suatu sistem suvrveilans dinilai baik atau representative apabila sistem itu sederhana, fleksible dan dapat diterima (acceptability) oleh pemakai. Dengan mempunyai karakter yang demikian maka suatu sistem akan banyak bermanfaat bagi suatu institusi kesehatan ataupun orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan untuk memfokuskan suatu kegiatan.

Pengembangan Sistem Terkomputerisasi

Pada dasarnya ada 2 metode dalam membangun sistem. Pertama top-down. Pada metode ini sistem dibuat dari pemetaan secara global yang kemudian dibuat secara lebih terinci. Metode yang kedua yaitu bottom up, dimana sistem dibuat mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Aktivitas pendesainan secara terstruktur dengan menggunakan konsep parallel dan siklus melingkupi :
1) Survey, 2) Analisa Sistem , 3) Desain, mengimplementasikan model yang diinginkan pemakai 4) Implementasi, merepresentasikan hasil desain ke dalam pemrograman, 5) Uji coba desain, 6) Testing akhir 7) Deskripsi prosedur, pembuatan laporan teknis tertulis seperti petunjuk pemakaian dan pengoperasian. 8) Konversi database, 9) Instalasi, 10) Aspek terakhir meliputi serah terima manual, perangkat keras dan pelatihan pemakaian.

METODE PELAKSANAAN

1) Menentukan kebutuhan informasi berbasis komputer. 2) Menentukan kebutuhan pemrosesan data. 3) Mengevaluasi sistem komputer yang berbeda untuk mendukung tujuan organisasi. 4) Memilih sistem komputer. 5) Merencanakan dan merancang perangkat lunak berdasarkan kebutuhan dari organisasi. 6) Melatih tenaga untuk menggunakan sistem yang dirancang. 7) Melakukan evaluasi dan modifikasi sistem. 8) Penerapan sistem yang telah dimodifiksi berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari analisis sistem yang dilakukan diperoleh informasi sebagai berikut : Data kasus atau penderita diperoleh dari laporan rumah sakit, laporan disampaikan tiap satu bulan. Bila laporan disampaikan dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan maka akan ditindak lanjuti dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE) oleh puskesmas terkait untuk mengetahui sumber kasus/penderita dan radius penyebaran. Kendala yang dialami selama ini adalah penyampaian informasi hasil PE oleh puskesmas ke DKK. Kendala tersebut yaitu keterlambatan penyampaian hasil PE (lebih dari 1 minggu). Tindak lanjut dari PE yang dilakukan oleh DKK yaitu fogging atau pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Laporan kasus DBD seharusnya dalam kurun waktu 1 x 24 jam, namun pada kenyataanya lebih dari itu.

Berikut ini adalah tampilan menu utama dari aplikasi Sistem Surveilance DBD.

Laporan-laporan berupa pemetaan kasus dan grafik pencapaian pemantauan jentik berkala (PJB). Kriteria pemetaan kasus adalah: a. Daerah Endemis jika tiga tahun berturut-turut terdapat kasus DBD; b. Daerah Sporadis jika tidak selalu ada kasus dalam waktu satu tahun. c. Daerah Potensial jika non endemis. Laporan angka bebas jentik (ABJ). Laporan lainnya yaitu: proporsi penyakit DBD per seks, proporsi penyakit DBD per golongan umur, laporan House Index , laporan Incidence Rate DBD, laporan Case Fatality Rate (CFR). Contoh hasil pemetaan kasus DBD bisa dilihat pada gambar berikut ini.

Selanjutnya masing-masing unit dapat memanfaatkan data dan informasi dari kegiatan pencegahan dan pemberantasan DBD.

Dengan mengacu padah tahapan penyusunan suatu sistem informasi yang berbasis komputer tesebut diatas maka telah dihasilkan suatu sistem surveilans penyakit DBD (yang selanjutnya dinamakan SIS-DBD). SIS-DBD ini dikembangkan dengan menggunakan aplikasi web based sehingga bisa digunakan secara multiuser dan bisa diakses secara on line. SIS-DBD memuat modul-modul untuk keperluan: pencatatan kasus DBD, Kegiatan pemantauan jentik berkala, Kegiatan penyelidikan epidemiologi, Pendataan POKJA DBD, PSN Anak Sekolah, Pencatatan jumlah penduduk per kelurahan dan modul pembuatan laporan per periode waktu. SIS-DBD sudah diuji coba di DKK Semarang. Kegiatan ini mendapat dukungan yang baik dari pihak DKK. Menurut petugas yang dilatih, sistem ini cukup mudah dioperasikan dan akan sangat membantu tugasnya untuk kegiatan surveilans DBD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s